Pria Hari Jumat

Pria hari jumat, Begitulah kami, saya dan rekan-rekan kerja saya memanggilnya, ya, disamping julukan-julukan lain yang spontan kami berikan seperti, si jabrik, si reza(karena dia katanya mirip dengan kakak kelas saya yang bernama reza) atau beberapa nama lain yang bahkan sudah saya lupakan. Namun dari kesekian julukan yang kami berikan, saya lebih menyukai memanggilnya pria hari Jumat. Mengapa harus hari Jumat? Mengapa tidak hari lain? Senin? Jawabnya, kami, tepatnya saya, selalu melihatnya tepat dihari Jumat.

Hari Jumat, di sebuah masjid dekat kantor saya, yang hanya di hari Jumat selalu menjadi pusat keramaian dari pedagang, maupun jamaah lelaki yang memang pada hari ini khusus mengunjungi masjid untuk shalat Jumat, ditambah dengan kaum hawa yang mencari makan siang yang memang banyak dijajakan juga disekitaran masjid maupun hanya sekedar cuci mata (seperti saya) karena pada hari itu ratusan orang (lelaki) dari beberapa gedung sekitar masjid tumpah ruah disitu. Beberapa sibuk tawar-menawar dengan pedagang yang menjual dari mulai pakaian, aksesoris handphone sampai obat-obatan tradisional, dan yang tidak kalah penting sandal (ya, banyak diantara lelaki-lelaki tersebut kehilangan sandal mereka ketika selesai shalat Jumat, satu diantaranya rekan saya).

Cukup intermezzonya sekarang kembali lagi di topik pria hari jumat. Bagaimana cara saya menemukannya?

Cerita awal memang tidak semerta-merta atau simpel saya bertemunya hari jumat, tidak seperti itu. Pada awalnya, jujur, saya tahu dia dari rekan kerja saya berinisial P, ceritanya dulu kami sempat berangkat kerja bersama, setiap hari, lalu pada suatu hari (saya tidak ingat, yang jelas sepertinya bukan hari Jumat) saya seperti biasa sebelum benar-benar ke ruangan kantor saya yang berada di lantai 14, saya terlebih dahulu harus absen, menempelkan salah satu jari saya pada mesin yang akan menjawab “thank you” jika jari saya dapat ia deteksi.Letaknya dilantai F1,  bingung? Saya juga susah kalau menjelaskan yang jelas saya harus naik lift dari lantai namanya P2 setara dengan grand floor namun ini dari sisi belakang, nah, kami, kembali lagi saya dengan kak P, untuk pertama kalinya satu lift dengan si PHJ (baca: Pria Hari Jumat) saya yang biasa memakai earphone dan tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitar lantas hanya berdiri diam di pojokan lift menunggu pintu lift terbuka di lantai F1, ting tong, pintu lift terbuka dan kami berdua berhamburan keluar lift dan bergegas untuk absen, saat dalam perjalanan yang berjarak kurang dari 10 meter, Kak P menceritakan bahwa tadi ada cowok “ganteng” yang se-lift dengan kami, sinyal saya pun langsung menangkap satu bayangan, pasti yang dimaksud Kak P pria itu. Setelah menyamakan presepsi saya pada akhirnya malah berkata, hmm~ cakep sih kak tapi pendek. Dan cerita tak berakhir disini.

Mungkin beberapa kali kami bertemu dan satu lift tapi saya masih menganggap PHJ biasa saja, saya akui ia memiliki kulit putih, style yang memadai dan tatapan mata yang tajam, namun karena saya termasuk fiksionista sejati, menurut saya itu belum cukup memuaskan mata saya. Memang selera saya itu luar biasa keterlaluannya lebih kepada tidak tahu diri malah kalau soal lelaki. Maklum, sekali lagi saya fiksionista. Sudahlah mengenai selera saya tidak berperan penting disini.

Back to the point.

Di suatu Jumat yang terik, hari dimana saya dan teman-teman saya yang biasanya hanya mengurung diri di kantor memutuskan keluar untuk cari makan di masjid, saya bertemu PHJ, dia sedang asyik duduk dipelataran masjid sedang asik menyantap siomay, itu pertama kali saya menyadari kalau dia itu cool. Sumpah cool, bukan caranya makan siomay bukan, saya tak tahu kenapa, namun dia cool. Hanya itu yang saya tahu, lalu Jumat kedua bahkan mungkin ketiga saya tak ingat ia masih makan siomay seperti biasa, setiap hari Jumat ditempat yang sama, saya mulai seperti cewek-cewek genit (memang) yang celingukan dan diam-diam memerhatikan dia, sekali dua kali mata kami bertemu (atau hanya saya saja yang merasa begitu).

Melihat dia di hari Jumat pun menjadi rutinitas saya. Jujur, sedikit memotivasi saya untuk melawan teriknya matahari Jumat demi membeli satu bungkus siomay dan diam-diam memerhatikannya dari kejauhan. Saya rasa ini memang romansa, sayang romansa sepihak rupanya. Ya, karena hanya dari sisi saya seorang, mungkin bagi dia pribadi, saya hanya sekedar orang-orang yang berlalu lalang, tak penting dan tak terlihat. Tapi yang jelas saya senang. Titik.

Pernah suatu ketika, bagian parkiran masjid sedang di renovasi jadi akses jalan menuju masjid yang biasa saya tempuh sedikit teralihkan, saya sudah kecewa saja, takut tak bertemu romansa saya itu. Namun, saya tetap ke tukang siomay walaupun saya tak membelinya, eh, ternyata dia ada, masih ada, masih beli siomay, namun sekarang ia tidak duduk di tempat biasanya ia duduk, ia setengah menyender ke tembok di dekat abang tukang siomay sembari melahap siomaynya. Waah selesai romansa hari Jumat saya. Rasanya minggu saya komplit, sungguh ada perasaan seperti itu.

Oh iya, untuk melengkapi romansa saya ia juga pernah sangat dekat lewat didepan saya, sangat dekat, sampai saya merasa bisa mencium wanginya. Ya, hanya lewat saja, saya gila.

Judul diatas memang pria hari Jumat, tapi sebenarnya hari hari biasa kami sempar berpapasan loh, namun, saya merasa mungkin ia mengira saya OA. Sempat saya berpikir itu dengan kak P, bayangkan saja, setiap saya berpapasan dengannya saya selalu memakai sendal jepit seadanya, penampilan seadanya dan tentengan kanan-kiri. Saya rasa ia kira saya OA. Ya, Itu mungkin lebih baik, dibanding ia mengacuhkan saya, artinya dia sadar akan saya walau sebagai OA. Namun, sekali lagi, ini romansa satu sisi. Dan biar, saya tak peduli ia berpikir apa maupun tidak berpikir. Ya, yang penting saya senang.

“Dia sudah beristri”. Kata teman saya, “dia pasti udah punya pacar” yang lain menimpali. “Eh kayaknya dia jomblo deh, masa kalo punya istri pulang suka nongkrong di warung belakang kantor” ini saya.

Yaah, dia memang dia, saya tak tahu namanya, kerja di perusahaan apa (walaupun satu gedung dengan saya), statusnya apa (yang diperbincangkan diatas), rumahnya dimana (ini sedikit berlebihan). Pokoknya sata hanya tau dia dan hari Jumat. Yang lain? Tak (begitu) penting.

Saya pernah berteori saya hanya bisa bertemu dengannya satu minggu sekali. Suatu minggu saya bertemu dia lebih dari sekali ban saya bocor ( ini sih saya saja yang lagi sial). Saya malu, dia bahkan tak tahu, saya terlalu naif, dia mungkin tak peduli. Tapi sempat saya rasa begitu.

Lebih kurang sebulan saya tak lihat rambut jabriknya, sedikit lupa. Lalu pesan di facebook saya dari teman saya mengingatkan saya pada si PHJ kembali begini pesannya:

Teman : pacar lo tuh dah punya cewe

Gue : Siapa? Iman?

Teman : bukaan. itu loh si jabrik

Gue : OH si hari Jumat?

Temen : kemaren pas gue dijemput sama xxxxx gue ketemu dia ama cewenya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s