Love Isn’t Like a Chemist Quiz

It’s my love story..

 

Kisah cinta yang gue alami ini sudah berjalan 7 tahun, kedengarannya biasa bukan? so many people have the some story with me, with us.

Tapi gue pikir kisah gue yaaa, a little bit different. Gue dan dia, butuh waktu yang begitu lama untuk memutuskan hubungan seperti apa yang kami jalani ini, not yet sih. Belum final keputusan kami. but it’s okay, i get used to.

Sampai sekarang gue dan dia, We never clear it. kami bisa saja disebut teman, sahabat, saudara, guru-murid, ataupun pacar, wait a minute, yang terakhir kami ga bisa menjawabnya. Karena, kami hanya menjalani apa yang kami selalu jalani, kami hanya mengikuti arus, tanpa mencoba mendayung, maupun menepi. Just let it go by the wind.

Now, We gonna make some decision. tentang kita itu sebenarnya apa?

flash back -7 years ago-

Namanya Gael, udah dua tahun gue kenal sama dia, tunggu dulu, maksud gue,  gue tau dia. Kami di sekolah yang sama sejak SMP kelas 3 semester akhir, dia anak baru, pindahan. Now, gue ada dipenghujung kelas 2 SMA, kita, gue dan Gael satu sekolah lagi. Selama 2 tahun itu, gue cuma bisa liat dia, dan tanpa bisa mengatakan apapun. Say “hi” misalnya. Cuma jadi stalker yang curi-curi pandang ke dia.

Then the story begin,

 

I ask him, suddenly

Udah semester akhir kelas 2, gue masih belum menemukan cara buat seenggaknya ngomong ke dia. Oh Gee, it’s just say “hi”, or something like “what time is it?” not “coud i be your gf?” or “marry me?” just say something, something usual.

 

Now here i am,

“Sorry, jam berapa ya sekarang?” -krik, krik, krik- (waktu berjalan 1 detik bagaikan 1 jam)

“Lo kan punya jam!” *straight! i think i am dying

“Eh, iya ya?” (saat seperti ini harusnya gue ngeles jam gue mati, dan buang tuh jam jauh-jauh. Kalo ditanya lo ga punya hp? bilang kecebur di got masih di servis, kalo masih ditanya juga langsung ambil tangannya dan liat jamnya :p)

Tapi dengan bodohnya gue langsung liat jam gue dan ber oh oh ria. Dia pun senyum,OMG, gue bisa liat senyum dia dari deket, WAW.

“Kalau di jam gue sih jam 1 kurang 5 menit”

“eh masa sih? oh iya gue lupa, ini kan gue cepetin lima menit soalnya gue takut telat!”

“emang ngaruh?”

“engga sih”

“hahaha…!” (dia ketawa, OMG!!!!)

“wajah lo gak asing, lo anak macan ya?”

“hah? macan? gue mirip macan?”

“bukan, masa alumni gak tau sih, Madya Chandika!”

“ooh, hehe, lupa gue, iya gue alumni situ, lo kan anak baru waktu itu disitu kok bisa tau sih? Setau gue lo masuk pas semester akhir kelas, pas lagi sibuk-sibuknya persiapan ujian dan lo intinya ya cuma punya waktu buat belajar dan…”

-dia menatap gue, dalem dan berkata-

“you know alot about me? but why don’t you speak to me before? It’s just like we were stranger..”

“We were stranger right? until now, I guess”

 

-I suddenly change the topic-

 

“so, kenapa ya kita ga pernah sekelas?”

“bukan gak tapi belum”

“iya juga ya? mungkin nanti pas kelas 3, eh gak mungkin deh kan kelas 3 ga pernah di mix!”

Kemungkinan tuh selalu ada..

 

-Pertemuan Kembali-

 

Ini hari pertama gue di kelas tiga, benar-benar sial, bener kata Gael, nyepetin jam itu gak ngaruh, karena kita tau jam kita udah dicepetin sebelumnya, My God!!

Gue telat dihari pertama kelas tiga, koreksi, hampir telat. Tersisa lima menit buat ke lantai tiga tempat (katanya) kelas gue berada, but i’m not sure.

Setelah liburan panjang kenaikan kelas, yang gue habisin dirumah nenek dikampung mengembala kambing gue lupa semuanya, dan baru nanya kapan masuk itu tadi pagi, plus nanya kelas gue dimana. Tanpa sempet nanya-nanya lagi karena I’m totaly late.

gue pun harus ngos-ngosan naik tangga untuk mencapai kelas gue yang ada di ujung, kelas IPA 9, kelas paling akhir.

Gue pun berjalan, eh setengah berlari, koreksi lari setengah mati di koridor kelas, guru dari kelas IPA 4-6 pun serentak keluar dengan ekspresi “Jangan lari-lari di koridor!!”

Tepat di pintu masuk, gue mati rasa, gue berhenti tepat saat ada badan cowok menghalangi di pintu masuk dan pas gue menoleh keatas, I know,  I’m paralyzed that time. HE WAS GAEL WHO IS STANDING IN FRONT OF ME (gue teriak dari dalem hati terdalam gue)

Gue bergumam, bukan, terbata-bata bilang,

“elo? kok disini?”

“See, It’s my name, and here is yours, We are in the same class in this years, got it?” , dia pun berjalan hendak pergi, namun sebelum pergi dia berbalik “barisan paling kiri dekat jendela ketiga dari belakang kosong” dia pun tersenyum dan pergi.

Gue tanpa pikir panjang dan ga berlama-lama memaksakan tubuh gue kembali seperti semula.

Sesampainya di barisan paling kiri dekat jendela ketiga dari belakang yang kata ‘Gael’ kosong, almost, there is one empty chair, Great!! It must be mine. But, suddenly, when I almost got the happiness, there is someone get in my way, dan itu dia yang dengan gak tau malunya dudukin bangku gue (correct, yang akan jadi milik gue)

Gue dengan tampang “‘it’s mine, and gonna be mine forever and ever” menatap dia dengan senyum paling manis nan menusuk yang gue punya. Setelah adu mulut dan tawar menawar yang sengit, finally, dia pun beranjak dan duduk di kursi paling belakang meng’iya’kan dengan penuh rasa ngeri

Dan gue duduk dengan perasaan menang, VICTORY!^_^V

Oh ya, gue jadi teringat tulisan tadi tulisan nama Gael gue baru tau nama lengkapnya, Gee. Here is :

12. Abigael Resenda

21. Kehira Andromeda

Angkanya itu loh angkanya!! GOD!!

But, i’m still wondering if here is the right chair?

Pertanyaan gue langsung terjawab pas Gael masuk ke kelas dan berjalan ke arah gue dan tersenyum. He’s like a Prince, believe me. Dan dia duduk disamping gue. Kata pertama yang dia ucapin ke gue

“Hai, welcome, stranger!” dan kami pun tertawa

 

-I Love Chemist more than … anything except you-

 

Jam pelajaran kimia, I hate this subject sooo much. Gue udah berkali-kali menguap mungkin ini yang ke 1000 kalinya, but, Gael tetep merhatiin papan tulis dan celotehan guru kimia yang menurut gue ngomong dengan bahasa planet.

“Gue benci pelajaran ini, gak ngerti!”

“Tau ga, kalo ga ada kimia kita mungkin mati, hampir semua benda yang ada di alam ini bersifat kimia loh!”

“Masa sih?”

“Contohnya, lo nafas kan? itu kimia tau! lo nafas kan pake oksigen”

“eh kayaknya gue pernah denger deh, nama ilmiahnya apa ya, emh, Oksigen, O, Co ya?”

“Bukan, just O, biasanya kita memakai awalan suatu zat, misalnya oksigen ya O, Carbon ya C. Gitu.”

“oh gitu ya? nah kayaknya gue pernah denger tuh nama deh, eh itu di papan tulis kan itu tuh yang di tulis pak guru, tapi kok panjang banget ya?”

“itu karena udah di reaksiin, kayaknya lo harus ulang dari awal deh belajarnya nih jadi gini…” (dia tau the best and easy way to teach me chemist)

dan semenjak saat itu..

 

Chemist, i love you and Gael too..

Kalau ada pelajaran kimia Gael dengan serius ngajarin gue dengan caranya, yang menurut gue sangaaaat mudah dimengerti, waktu gue dan Gael asik sendiri belajar kimia, guru kimia gue Pak Einstein, sebenernya Pak Enang, karen dia mirip Einstein jadi anak-anak manggil dia begitu. Dia menyadari kesibukan kita berdua dan berkata dari depan kelas..

“Kamu, coba terangin apa yang barusan bapak tulis di papan tulis!”

gue refleks bilang “Saya Pak?”

“bukan kamu, tapi Abigael!” -suara tawa membahana dikelas-

“DIAM! Abigael silahkan maju!”

*gue berbisik ke Gael “Pak Einstein tau aja gue ga bisa”

Gael pun hanya tersenyum geli dan maju kedepan with full of confident.

Dia berada di depan dan mengajarkan semuanya dengan cara yang sama seperti mengajarkan ke gue, with a simple way. But we can get it.

Sejak saat itu Gael jadi amat terkenal di kelas terutama karena keahliannya di bidang kimia. Gue merasa separuh rahasia gue akan Gael terungkap, Gael guru kimia bersama, Gael milik bersama, NO!!!

Saat istirahat yang biasa gue pake berdua dengan Gael sekarang terganggu dengan belasan gadis remaja yang ngantri minta ajarin Gael, Privately!

Gue seperti didepak dari singgasana sebagai Ratu Gael.

Gue pun beranjak dari kursi, sebelum pergi gue sempet menengok kearah Gael yang ternyata dia melihat ke arah gue juga dan dengan tatapan menenangkan dan mata yang berkata “i’m still yours, correct, still your private teacher”

Gue pun duduk di halaman sekolah gue yang cukup luas didepan lapangan basket, menatap langit, awan, kesukaan gue buat ngusir penat. Sambil merasakan teriknya matahari siang, tiba-tiba ada suara langkah kaki dan dingin di pipi gue

“aduh, dingin tau!”

“hhha~ capeknya, perempuan perempuan itu lebih dodol dari lo”

“dodol? (apa di dodol-dodolin!)” -setengah bergumam-

“hmm, harusnya lo yang beliin gue minum, jadi gue sih”

“gue ga minta, lagian kenapa gue mesti beliin?”

“lah kan gue abis kecapean nih jadi guru kimia dadakan!”

“terus?? salah gue gitu?”

“iya!”

“kenapa?”

“ya, karena waktu itu pas kita ke gep sama pa Enangsteins, kan gue lagi ngajarin lo!”

“kalo gitu gausah ngajarin gue lagi, makasih!”

“lah, kok?”

“apa?”

“engga”

“…”

“…”

“kalo cemburu cewek tuh keliatan banget ya? haha”

“apa? siapa yang cemburu?dan cemburu sama siapa?”

“ck, iya gue gak akan ngajarin mereka lagi, oke?”

“Gael!!”

“Apa?”

“Thanks!”

“For?”

“not being their teacher anymore, and go on.”

“u’re welcome”

“masuk yuk, PR kimia gue kan belum selesai!”

“oh, itu sebabnya sampe kayak gini lo?”

“gak juga sih! hehe”

Sejak saat itu we are getting closer than anyone else. We are like bro-sis, best friend but it close to a couple. Still, till now, we don’t really know what we should called, best friend? or more …

We just end up like this, like We used to be from that time till now,

For almost 4 years, We are together, sometime We fight, We laugh, We cry, We talking’ with each other, making’ fool each other but We still together.

Sekarang, di umur kita yang ke 23 kita berdiri menghadap satu sama lain make one decision untuk melanjutkan hidup kita atau hidup gue dan dia.

“Gael, lo mau jadi apa kelak?”

“mungkin ahli kimia, lo bilang gue punya potensi kan?

“ilmuan gitu? kayak Banner?”

“ya engga lah, seenggaknya gue gak mau jadi hulk, haha”

“…”

“kalo lo? mau jadi Betty?”

“gak bisa lah!”

“kenapa?”

“bokap gue kan bukan army”

“Gee, serius lo mau jadi apa?”

“Penulis, penulis novel kayaknya seru. kita bisa tenggelam dalam dunia ciptaan kita sendiri!!”

“Hmm, gue ilmuan dan lo penulis, kita bakal sibuk dengan dunia masing-masing dong”

“gak dong, kan ada waktunya, yang harus kita atur waktu kan?”

“lo emang bisa maintain waktu? sering telat gitu!”

“itu beda ya!”

“sama!”

“…”

“…”

“always end up like this, ketika kita sampai pada satu titik pertemuan, tiba-tiba kita diem kan, bingung mau memutuskan, ga ada yang berani mempertemukan titik itu, Gael, why it can be so hard for make a decision. Kita selalu mengganti subject pembicaraan kalo itu udah menyangkut hal ini kenapa sih? kenapa?”

“Keh, now, I’m still confused about us. It’s not just like a chemist quiz, it’s so hard for me to make a decision about us”

“me too, it’s not all your fault, it’s mine too, sorry for bothering you about this matter again”

“No, it’s not, someday we must face it, but not now.”

“okay, i’ll be waiting”

“me too”

Love is harder than anything else and everyone has their own love story and different with others, and this is mine, ours.

Gael&Keh

 

Note : Ini cerpen, ya kayaknya sih. Gue nulis ini kalo ga salah di kompasiana, yang dengan sedihnya gue lupa email dan password akun gue itu hiks banget, tahun 2012 kalo ga salah sih. Udah sih gitu aja, baru ini satu-satunya yang bisa gue ending-in. That’s all. (malu asli! gue sok inggris banget di cerita ini, padahal grammarnya salah semua)

 

 

 

Theme Song : Four Seasons by Namie Amuro

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s