Another night story

Ini cerita tentang dua orang dengan dua kepribadian berbeda dan nasib yang berbeda pula. Namun terjebak dalam sebuah pertemanan yang tak ada ujungnya.
Dua buah kisah yang disatukan oleh satu kata yaitu teman

Wanita 1
Modis, stylish, dicintai banyak lelaki, mempunyai beberapa bahkan banyak kisah cinta yang sampai bisa dibukukan. Sudah mengalami berbagai pahit getirnya dunia percintaan remaja. Namun ia punya satu harapan yaitu memiliki satu orang. Hanya satu, yang dapat ia habiskan dengannya waktu dihidupnya. Yang bisa ia beri gelar suami di hidupnya. Ia hanya ingin mendapat satu orang, ia lelah telah mencoba segala bentuk kisah cinta. Dari cinta monyet sampai gorila. Ia akhirnya menemukan seorang pria. Namun kisahnya tak sampai disitu.

Wanita 2

Ia sadar. Dirinya tidak begitu diinginkan. Tidak berpengaruh pada hal apapun atau bahkan kurs mata uang. Ia hanya wanita biasa. Orang biasa yang punya kehidupan biasa terlalu biasa.
Sejak awal pertemuan dengan wanita 1 hatinya berkata, kami tidak akan bisa berteman. Sampai wanita 1 minta diantarnya ke toilet. Dan semua pun berubah.
Masalah hidupnya hanya satu, satu yang paling parah. Kepribadiannya. Bukan tomboy juga bukan wanita tulen bahkan sepertiganyapun tidak. Menyematkan piagam wanita fiksi pada dirinya sendiri. Menganggap lelaki adalah alien. Dan merasa bersalah jika menanyakan hal pribadi kepada lelaki.
Belum pernah ‘pacaran’ di dunia nyata. Pacar fiksinya banyak. Namun satu kesalahan terbesarnya. Disamping moody, dia sangat tertutup.

Namun kedua wanita itu. Punya waktu-waktu dimana cerita mereka meluncur dari mulut mereka untuk kemudian di transfer ke telinga lawan bicara mereka yaitu mereka sendiri. Menyatukan pikiran. Mencari solusi. Menguatkan dan saling memberi saran serta motivasi.

Walau pada akhirnya. Subjek cerita mereka hanya itu-itu saja. Karena, itulah hidup. Hanya berputar dan berputar. Namun terkadang kita harus keluar dari putaran itu. Karena, suatu waktu kita akan sampai ke sebuah titik jenuh. Zona aman tidaklah selalu yang terbaik. Namun, pertemanan bukan sebuah zona aman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s