Wedding Fair

Lona

Rakadya Wilona. Aku tak mengerti dengan laki-laki. Mereka makhluk yang sulit. Seperti suamiku ini. Dulu setengah mati ia mengejar cintaku. Bahkan mengajakku untuk kawin muda.
Namun sekarang setelah kami menikah. Entah mengapa rasanya ada sesuatu yang hilang darinya. Sesuatu seperti apa ya, gairah hidup? Semangat? Mungkin ia bisa menutupinya dari semua orang. Semua orang yang menghadiri pernikahan kami yang terencana dan terorganisir dengan baik. Semua kerabat bahkan keluarga kami. Tapi bagiku, yang sudah tau dengan sifat dan wataknya. Aku merasa ia hanya sedang menjalankan tugas saja. Tugas menjadi suami. Bukan dari hati. Seperti memang kewajiban saja. Bukan panggilan hati.
Ia dulu bilang sudah mengenalku seumur hidupnya. Tapi apa? Bahkan kemarin ia hampir lupa ulang tahun pernikahan kami kalau bukan berbarengan dengan hari valentine. Ya, kami menikah sudah hampir 5 tahun yang lalu tepatnya di hari valentine. Itu juga pilihannya. Hampir semua ia yang mengatur. Katanya aku cuma cukup jadi cantik saja. Gombal.
Namun, sebenarnya aku agak ragu padanya. Jujur, walaupun kami kenal sejak kecil. Aku terkadang seperti tidak mengenalnya. Ia seperti jauh dari jangkauanku. Ia pemimpi dan perencana yang baik. Namun entah mengapa, aku masih meragukannya. Ya, selama ini aku masih juga meragukannya. Malah dari dulu. Ia sempat sampai beberapa kali menyatakan cintanya kepadaku namun tidak pernah kuterima sampai akhirnya aku menyerah dan menerimanya. Ketika aku yakin, walau sedikit ragu masih menyelimuti hatiku kepadanya.
Keraguanku bukannya tanpa alasan. Alasan klasik sih sebetulnya dan hanya ketakutanku semata. Yaitu, aku takut ia bosan. Ia bosan terhadapku. Suatu saat nanti. Bagaimana tidak. Kami sudah bersama bahkan dari kami masih ngompol di celana. Ia, setauku tak pernah dekat dengan cewek lain bahkan dengan orang lain setauku. Hanya sebatasnya saja. Ia selalu menempel padaku. Semasa kecil hingga remaja. Itulah, itu hal yang paling aku takutkan. Ia bosan. Makanya, ketika ia melamarku. Rasa takutku makin menjadi. Aku takut pernikahan kami cuma seumur jagung. Aku takut ia bosan. Ia lelah bersamaku. Itulah mengapa. Aku biarkan ia berpikir.

Aku biarkan kami beristirahat dari kami sejenak. Toh kalau jodoh tak kemana, ibarat kata. Dan alasan lainnya yaitu kata orang kalo sahabat terus jadi pacar terus jadi suami ya terus jadi mantan suami. Ibaratnya lagi gak long-last. Nah, walau teori ini gak berpengaruh pada sebagian orang tapi bagiku ini bisa jadi acuan. Acuan untukku menolaknya.
Walau kesannya peduli banget kata orang, tapi ya begitulah. Takut aja jadi sugesti nantinya. Takur disebut-sebut macam-macam. Takut dibilang “tuh kan! Sahabatan jadi suami tuh ga long-last”
Emang selfish banget pendapatnya tapi ya kita, disini saya cuma ambil enaknya aja. Disamping supaya menegaskan perasaannya kepada saya. Kalau emang ia serius. Pasti ia jadi milik saya. Kalau masalah cinta. Saya sebenarnya cinta mati sama dia. Dia gak tau aja. Saya sangat cinta dan sayang sama dia. Bahkan tak ada laki-laki lain pernah saya gandeng tangannya kecuali dia, abang dan bapak saya. Dia segalanya buat saya. Dia dunia saya. Tapi dia gak perlu tau. Cukup saya saja yang tau. Cinta gak boleh dikasih tau semuanya. Sedikit-sedkit saja, biar ada greget dan penasarannya. Begitulah pendapat dan pemikiran saya.

 

Biru

Nibiru Kalangitan. Setiap laki-laki selalu membawa kebahagiaannya kemana-mana, kebahagiaan terbesar seorang laki-laki adalah memiliki orang yang ia cintai disisinya. Karena tak bisa selalu saya bawa-bawa kemana-mana harta paling berharga saya itu, maka sebisa mungkin saya harus bisa minimal melihatnya sekali-duakali-tigakali dalam setiap waktunya. Saya sembunyikan kebahagiaan saya itu didalam dompet saya. Selembar kertas, bukan yang bergambar pahlawan tempo dulu. Melainkan kertas yang sudah didesain sedemikian hingga muat di tempat yang memang dikhususkan untuk menaruhnya, menaruh foto. Setiap waktu sebisanya saya melihat foto tersebut. Foto berlatar belakang sebuah mirip singgasana adat minang berwarna perak yang didalamnya terlihat dua orang yang kelihatan paling bahagia hari itu. Dua orang, sepasang pengantin yang dengan bangga memamerkan cincin tanda mereka telah dipersatukan oleh takdir.

Saya tidak pernah benar-benar melihat foto manis itu. Melainkan hanya sebentar saja lalu mengeluarkan foto tersebut perlahan seakan takut ia rusak dan seakan foto itu kertas yang rapuh. Dan membiarkannya berada diluar digenggaman tangan kiri sementara mata ini langsung dipertemukan oleh sebuah foto lain tepat ditempat yang sama dengan foto tadi, dibelakang foto yang tadi saya keluarkan. Terlihat foto yang lebih sederhana, dan tampak lebih kusam dibandingkan foto tadi yang terkesan penuh warna. Namun foto kusam tersebut, sama-sama menampakkan sebuah rona kebahagiaan yang sedikit susah untuk dijelaskan. Didalamnya terdapat dua orang yang terlihat canggung namun terlihat sangat cocok dengan apa yang mereka kenakan saat itu. Gaun sederhana, yang dikenakan sang wanita berwarna putih gading dengan riasan rambut sedehana dan make-up seadanya dikulit pucatnya dan jas berwarna abu-abu milik lelaki yang mempertegas lekuk tubuh tegap dan tingginya seakan memang diciptakan khusus untuk kedua orang di foto tersebut. Dengan latar polos tanpa hiasan dan singgasana membuat foto tersebut terkesan lebih bahkan sangat sederhana, namun syarat akan makna mendalam, terlebih karena tak bisa dijelaskan dari raut wajah dan ekspressinya apa sebenarnya perasaan yang dirasakan kedua orang didalam foto tersebut.

Bagi saya, foto tersebut terlihat lebih layak, lebih pas dilihat dihati saya sekarang ini, ketimbang foto pertama yang jelas-jelas memancarkan keindahan dan kebahagiaan didalamnya. Foto dengan latar belakang berbeda, dan wanita yang berbeda pula.
Ya, antara foto pertama dan kedua sama-sama foto saya, namun dengan dua orang yang berbeda. Yang mengisi hati saya sampai sekarang. Bedanya, wanita yang satu dikenyataan saya dan yang satu di khayalan saya, dimimpi-mimpi saya, diruangan khusus yang saya sediakan khusus untuknya. Semua orang punya rahasia, rahasia yang tak bisa diungkapkan pada siapapun. Dan dialah rahasia saya. Rahasia terbesar dalam hidup saya. Dia bagaikan sebuah oasis di hidup saya. Datang dan pergi tanpa sepengetahuan dan izin saya. Namun, ia tak bisa begitu saja hilang dari ingatan, hati dan pikiran saya. Ia adalah oasis terindah yang pernah mampir dihidup saya. Dan saya terpesona olehnya sampai membutakan saya. Berkali-kali menarik saya kedunianya, yang tak pernah dan tak akan pernah lagi ada dan hadir di hidup saya. Karena ia oasis.

 

Theme song : Somewhere Only We Know by Lily Allen

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s