Bapak

Setelah dua puluh tahun aku dalam asuhanmu
Aku dalam kasih sayang dan perhatianmu
Aku dalam perlindunganmu
Ini mungkin waktunya aku belajar untuk terbiasa tanpa itu
Engkau mengajariku banyak hal
Engkau membawaku kemanapun yang aku inginkan


Memberikan apapun yang aku minta
Dan aku sadar aku tak pernah melakukan apapun untukmu, belum, belum sempat
Belum sempat aku mengajakmu berjalan-jalan di sore hari menikmati masa tuamu dan masaku menanjak dewasa
Belum sempat aku memberikan semua keinginan dan mewujudkan semua harapanmu.
Walaupun begitu, engkau selalu tersenyum untukku
Bahkan ketika aku pulang larut malam
Lupa waktu dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan orang lain
Dan membiarkanmu menunggu harap-harap cemas di rumah
Dan kau buka lebar gerbang rumah itu sampai aku pulang dengan wajah lusuh dan kau hanya tersenyum dan tanpa ingin tahu membiarkan diriku melepas lelahku terlebih dahulu
Tanpa curiga tanpa prasangka, sudah cukup bagimu ketika aku pulang dengan sehat walafiat, tanpa peduli akan angin malam karena menunggu diluar rumah,
Terkadang ketika engkau fikir aku sudah terlelap tidur, padahal terdengar olehku bunyi pintu berdecit saat kau geser pintu perlahan, takut akan mengganggu tidurku
kau intip sedikit dari luar kamarku, untuk memastikan aku sudah mematikan lampu kamarku
Dan aku sudah terlelap tidur atau belum.
Dan baru engkau pergi ke kamarmu.
Esoknya ketika bunyi alarm memekakkan telinga dari telepon genggamku, kau pun bangun malah sebelum itu, namun diriku terus tidur tanpa menghiraukannya
Kau bangunkan diriku dengan sabar dan diriku dengan marahnya terpaksa bangun dengan muka ditekuk, kadang aku menyakitimu, kadang? Sering, bahkan selalu. Namun, kau tetap membangunkanku, walaupun aku menyakitimu.
Doa dan restu terucap dari mulutmu, kemanapun aku mau pergi, agar aku kembali dengan sehat dan selamat
Wejangan-wejangan khasmu kau perdengarkan hampir setiap saat aku akan pergi meninggalkanmu
Entah itu hanya main, sekolah, kerja, bahkan ketika aku tak menyebutkan tempat kemana aku pergi. Tak pernah kudengar protesmu
Semua hal-hal kecil itu, akan menjadi hal-hal yang paling kuingat darimu
Dan akan selalu mengisi memoriku tentangmu
Meski tak pernah sekalipun kutunjukan rasa sayangku padamu
Apakah kau tahu?
Hatiku hancur melihat bendera kuning didepan rumahku, bertuliskan nama yang sangat aku kenal
Bapak
“Innalilahi wa innailaihi roji’un”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s