In the Name of Father’s Day

bapak

image : Google Doodles

Tuh kan, bapak ikutan. Setelah selama ini bapak ngiri karena cuma ibu yang ada “hari” nya akhirnya pada hari ini 12 November 2014 entah sejak kapan, orang mulai merayakan Hari Ayah atau Father’s Day. Cocwit deh.

Sebenernya dulu gue pernah denger ungkapan kalo hari ayah itu setiap hari. Ungkapan itu lebih cocwit banget kan???? tapi mungkin karena takut giliran ibu yang ngiri jadi hari bapak/ayah juga dibikinin. Apalah susahnya milih dari hampir 200an hari yang tersisa untuk nyempilin satu aja buat bapak, mungkin gitu pikir pencetusnya. Atau ada ide lain?

Menurut wiki sih begini:

Father’s Day is a celebration honoring fathers and celebrating fatherhood, paternal bonds, and the influence of fathers in society. Many countries celebrate it on the third Sunday of June, though it is also celebrated widely on other days by many other countries. Father’s Day was created to complement Mother’s Day, a celebration that honors mothers and motherhood.

Artinya? cari di gugel sanah.. intinya sih ya gitu seperti yang gue ceritain diatas. Emang gue cerita apa?

And in the name of father’s day, actually I’m not celebrating this kind of event like mother’s day and whoever’s day. Gue berusaha untuk sekecil mungkin merayakan ulang tahun baik itu ultah gue atau orang-orang disekitar gue, namun gue berusaha menghormati yang merayakan, karena menurut gue keberadaan kita di dunia tidak perlu dirayakan hanya cukup disyukuri, dinikmati dan dijalani.

Namun, the last, hari bapak ini ingin sekali gue rayakan, karena jujur, selamat bapak gue hidup, gue gak pernah merayakan hari jadinya bapak. Gue bahkan lupa kapan beliau dilahirkan kedunia ini, dan kata mamah gue, tanggal lahir bapak gue di KTP belum tentu benar, karena jaman dulu tidak seperti sekarang, gak ada dokter, mereka semua lahir lewat dukun beranak yang belum tentu dulu punya atau bikin catatan kelahiran yaaa semacam itulah. Jadi, sampai detik bapak meninggal, gue belum pernah benar-benar merenungi arti kehadiran beliau barang sekali aja. Walaupun dulu bapak sering ngerayain ultah gue dan inget sama ultah gue, ngajak gue makan sama mamah di MCD. Sampai sekarang, bapak udah gak ada, gue baru benar-benar menyadari itu. How selfish I was, I am. Mudahn-mudahan bapak diberikan Allah pahala yang lebih besar ketimbang kenikmatan duniawi yang belum sempat gue kasih ke bapak. Insha Allah kita bakal ketemu lagi, Pak.

Salam kangen,

Anak bontotmu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s