Versi Fiksi Saya

Saya hanyalah perempuan biasa, kelewat biasa dibandingkan seluruh perempuan biasa seusia saya di seluruh alam ini. Kisah saya pun biasa, tidak ada yang bisa selalu saya bagikan ke publik setiap saat. Tidak ada yang bisa saya bagikan ke path kecuali daftar lagu yang sedang dan akan saya dengarkan dan juga daftar film yang saya tonton. Sesekali check in pun hanya terbatas di kantor di lantai empat belas gedung di kawasan Rasuna Said ataupun sekedar mampir ke pusat perbelanjaan yang menurut saya gak terlalu menarik juga buat di share tapi tetap saya share. Alih-alih ngisi postingan di jejaring sosial yang kata orang merupakan ajang pamer. Foto? paling saya re-share dari dagelan ataupun hasil colongan dari beberapa grup whatsapp di hp android saya yang belum juga kelar cicilannya karena saya ambil yang 12 bulan. Maklum masih fresh graduate. Dari dua tahun lalu masih juga fresh graduate. Saya memang baru lulus tahun 2012 lalu dari SMK jurusan teknik, keren sih namanya yaitu Teknik Komputer Jaringan atau disingkat TKJ. Saya lulus dari sekolah negeri di kawasan condet yang katanya lumayan favorite karena disitu emang cuma itu saja sekolahan yang “kelihatan”.

Setelah lulus saya tidak langsung lanjut kuliah karena memang saya gak ada minat kesana tadinya dan tidak ada rencana pula. Saya bukannya tipe planner makanya semua yang saya jalani saat ini murni terpaan angin belaka. Saya cuma ikut arus saja. Karena saya ini sebenarnya kalo bahasa kerennya orang yang sedang mencari jati diri, saya tidak tahu diri. Setelah lulus saya nganggur-nganggur dulu dirumah sekitar sebulanan. Cuma jagain keponakan, makan, tidur, ulangi lagi setiap harinya. Sampah keluarga.

Sebenarnya saya punya plan, cita-cita, mimpi yang agaknya ketinggian. Saya sudah merencanakan ini ketika saya menghadiri beberapa kali pameran pendidikan keluar negeri dan saya kepincut untuk belajar ke Jepang. Salah satu negara impian saya sejak SD. Sejak pertama kali saya nonton Inuyasha. Saya suka negara tersebut, suka aja. Saya lalu dapat berbagai informasi tentang beasiswa ke Jepang, dari kedutaan Jepangnya langsung. Saya udah niat. Seleksi dokumen gagal. Saya emang gak mau muluk-muluk tapi ngarep juga tapi belum masuk. Saya sudah bela-belain dateng sendiri ke kedutaannya di Thamrin naik motor sendirian untuk pertama kalinya, namun saya gagal. Niat dan tekad saya belum sekuat baja. Saya pasrah. Lagi pula mimpi apa saya? saya siapa?. Bukan siapa-siapa. Cuma pemimpi yang mimpinya belum kesampaian dan ia memutuskan untuk terus bermimpi.

Sudahlah itu biar jadi rahasia saya Guru matematika saya yang juga merupakan wali kelas saya pas kelas 3 (entah dia ingat atau tidak) dan orang-orang yang saya kasih tau. Mungkin itu cuma jadi salah satu mimpi saya yang belum bisa saya wujudkan dan akan saya gantung di langit-langit kamar saya. Yang jelas yang saya tau, perjuangan saya pada saat itu bukanlah yang terbaik dari saya dan saya sudah tau akan akhirnya. Untuk soal pendidikan mungkin saya memang belum beruntung, namun saya yakin, apa yang saya dapatkan hari ini adalah yang terbaik yang saya pantas terima. Saya tidak pernah menyesal punya cita-cita dan ekspektasi tinggi. Karena setiap orang punya hak yang sama untuk bermimpi, walaupun belum tentu punya akses yang sama juga untuk meraih mimpi tersebut. Biarlah saya ikut kemana takdir membawa saya, kepada siapa takdir membawa saya, kemana dan dimana ending saya nanti. Yang jelas, selama saya dekat dengan orang-orang yang saya sayang dan yang menyayangi saya, itu sudah cukup berarti untuk saya. Setidaknya untuk saya kenang nanti di penghujung usia saya.

Masalah cinta? setiap orang yang saya ceritakan tentang kisah cinta dihidup saya pasti kebanyakan tidak percaya dan menjudge yang macam-macam. Ya, kisah cinta saya di dunia nyata adalah kecintaan saya dengan dunia fiksi. Alias, fiktif belaka. Di umur yang 20 tahun ini saya memang belum pernah merasakan kisah cinta sesungguhnya yang seperti film, anime, manga atau drama ajarkan kepada saya. Ya. saya hanya merasakan kisah cinta mereka, kaum fiktif saya. Sedangkan kisah saya sendiri? saya belum pernah merasa saya pernah memilikinya. Ada, mungkin cuma saya buat agar terkesan saya punya hati dan perasaan juga. Namun untuk kemurniannya? saya tidak jamin. Hati saya pun belum mengkonfirmasinya. Kadang mungkin rasa yang ada pada diri saya, bisa dikategorikan di tingkat “suka” saja, belum ketingkat sayang apalagi sampai ke cinta.  Saya sudah merasa senang merasakan kisah cinta yang bukan kisah saya sendiri, melainkan kisah para tokoh fiksi tersebut.

Saya hanyalah saya, belum menjadi kita apalagi kami. Saya adalah fiksi dan fiksi adalah saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s