Keburu lupa

Gue mencoba untuk lebih produktif lagi sekarang, gue ga tau kedepannya gue akan jadi apa, yang jelas ini salah satu kebiasaan gue sejak dulu yaitu bikin sinopsis. Well, I like fiction that so obvious. That’s why I like a story and I usually make one in my head, right after I watched something or get inspired by something. Usually that stories never go out of my head, I mean I rarely write it. It just my imagination and I like to be a part of my own imagination, and enjoy it myself..

But, today, after shubuh prayer I wrote something from my head.. My synopsis, well, I don’t know how to call it but I call it synopsis anyway. And then, here they are:

Tema: Arsitektur, Co-workers lovers

Pemain:

  • Lee Ho Won
  • Jung Nara

Latar tempat:

  • HWN Arc.(office)
  • Prague
  • Seoul

~Storyline~
HW dan NR, memiliki ketertarikan yang sama akan seni bangunan, atau arsitektur. HW senang menggambar designnya yang bergaya modern dan lebih komersial. Sedangkan NR senang memfoto tempat-tempat yang memiliki keindahan atau design arsitektur yang bernilai seni tinggi, dengan kata lain keindahan adalah salah satu hal yang menonjol daru setiap desainnya. Ia, NR fokus ikut berbagai kejuaran arsitektur dan memenangkan beberapa penghargaan dan rela berkeliling dunia hanya untuk melihat berbagai karya arsitektur terbaik, salah satunya adalah kawasan eropa yang menjadi “muse” nya.

Mereka sudah mengenal satu sama lain sejak di bangku sekolah menengah. Tepat lima tahun setelahnya, mereka sama-sama mengambil sekolah arsitektur terbaik di Seoul dan pergi keberbagai penjuru dunia, termasuk Prague. NR sangat menyukai Prague dan ingin sekali suatu saat designya dapat dibuat di kota tersebut. Sedangkan HW lebih fokus pada firm bisnis yang ia sudah rencanakan dari dulu yang akan bekerja sama dengan NR dan rekan lain di dunia kearsitekan. Usia muda, 20, mereka sudah mulai aktif di firm yang tidak terlalu populer saat itu. HW lebih berperan karena NR lebih fokus pada setiap perlombaan arsitekturnya dan memenangkan berbagai penghargaan.

Tanpa disadari atau tidak, mereka telah menjadi sepasang kekasih sekaligus rekan kerja. Karena satu sama lain nyaman akan keberadaan masing-masing dan tau akan peran satu sama lain di kehidupan mereka. Mereka menjalaninya dengan mengalir begitu saja. Sampai suatu ketika, setelah 10 tahun saling mengenal satu sama lain dan 5 tahun berkencan dan bekerja bersama, NR memutuskan untuk pergi ke Prague. Meninggalkan sepucuk surat yang berkata:

 “Aku ada di Prague, jangan kesini. Mungkin aku tak kembali.”

Begitu isi pesan surat tersebut.

HW yang sedang fokus dengan proyek besar di firmnya yang merupakan proyek ke tiga dan yang akan menjadi kunci kesuksesannya kelak pun menuruti isi pesan itu. Tak lama kemudian, tepatnya 3 bulan kemudian ia mendapat pesan dari nomer tak dikenal, yang memiliki kode area yang asing yang berkata

” bisakah kau ke Prague? Ia membutuhkanmu lebih dari apapun dan siapapun – Antonin”

Ps: mengenai siapa aku akan kujelaskan jika kau sudah disini.
Ini alamat kami:

Retro Flat Apartment, Zborovská 1026/15, 150 00 Prague-Smíchov, Czech Republic

Melihat nama Prague, lantas HW langsung paham dengan siapa ia bicara dan memutuskan untuk pergi kesana tanpa menghiraukan apapun dan meninggalkan pekerjaannya.

Prague

Ia sudah mengerti situasi di Prague atas penjelasan dari Antonin yang tak lain adalah mantan suami dari NR, ya, tiga bulan yang lalu NR menikah dengan Antonin. Di Prague tanpa memberitahu HW. Namun mereka berpisah setelah 3 bulan, NR tidak keberatan berpisah dari Antonin namun tidak juga berkata apa-apa hanya mengurung diri di flat-nya. Antonin merasa amat cemas dan akhirnya ia menyelidiki sendiri NR lewat HPnya dan ia melihat foto-foto HW dan kontak HW di hp NR lalu menghubungi lelaki itu. Menjelaskan semua dan apa yang terjadi. HW mendengarkan dengan seksama tanpa komplain. Lalu, ia memandang dengan dalam NR yang kala itu sedang tidur.

Setelah 3 jam tidur dibawah shower dengan masih menggenggam suntikan dengan sisa obat tidur didalamnya (yang ia ketahui kemudian). Antonin mengatakan ia tidak bisa mengurus NR lagi, tidak setelah mereka bercerai seminggu yang lalu. Yang telah disepakati keduanya. Antonin berkata ia harus melanjutkan hidupnya, dan NR pun sudah melepaskanya. Namun Antonin khawatir dan ketika ia mengecek beberapa hari yang lalu sebelum kemudian akhirnya ia menghubungi HW karena NR tak kunjung menjawab telponnya untuk mengurus perceraian mereka yang agak sulit di Prague, ia memutuskan untuk mengecek NR dan kejadian serupa seperti hari ini terjadi. Antonin merasa takut ini terjadi lagi maka ia menghubungi siapapun yang ada di kontak HP NR. Tiada siapapun, kecuali HW di hpnya. Lainnya hanya nomer tidak dikenal, nomer international dan lokal.

Setelah memastikan bahwa NR dalam penjagaan HW sekarang maka Antonin pun pergi dan menjelaskan bahwa ada beberapa prosedur perceraian yang harus di selesaikan NR dan kemudian pergi meninggalkan HW dengan setumpuk surat dan keheningan di flat dengan NR yang masih tidak sadarkan diri.

Menunggu NR sadar HW membaca surat-surat tersebut dan mulai mempelajari satu persatu isi suratnya yang kadang membuat alisnya naik karena berbagai macam peraturan disana dan hal yang harus mereka jalani, yep, mereka, karena HW yakin NR tak akan menjalani hal ini sendirian, tidak setelah ia melihatnya hari ini.

HW tidak tahu obat tidur macam apa yang disuntikan NR sehingga ia tidur sampai pagi keesokan harinya.

Ketika HW yang terlelap di sofa dengan kertas-kertas berserakan disekelilingnya bangun, di depannya NR sedang duduk memerhatikannya dari sofa yang lain. NR sama sekali tidak terkejut malah terkesan datar. Entah ia masih dibawah terpengaruh obat tidur atau bagaimana, ia hanya memandang HW dan HW pun gantian menatap NR. Tidak ada yang bicara saat ini bahkan berkedip. Mereka seperti bicara dalam diam, menunggu salah satunya memecahkan kesunyian tersebut.

Ingat akan kertas-kertas diatasnya HW pun buka suara.

Kau sungguh butuh bantuanku saat ini, kertas-kertas ini harus segera kau kembalikan kepada yang membutuhkan – HW

NR tersenyum tak percaya, dan tak berkata apa-apa meninggalkan HW dan pergi mandi. Terdengar suara HW mengakatan dari jauh seperti jangan minum obat tidur sebelum mandi yang membuat senyum NR makin lebar.
HW dan NR selama hampir seminggu mengurus segala dokumen perceraian dan imigrasi di Prague yang sangat sulit dan melelahkan. NR berkomentar “aku tak akan menikah disini untuk yang kedua kali” lalu HW membalas “aku akan membunuhmu jika itu terjadi”
Tanpa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi HW melakukan segala hal untuk NR seperti halnya ia wajib melakukan itu. HW tidak berkata apapun maupun bertanya apapun. NR pun tak menceritakan apapun. Walaupun HW memiliki cerita versi Antonin namun seharusnya, sudah sewajarnya ia tahu dari NR tentang apa yang terjadi tiga bulan belakangan. Pertanyaan simpel seperti, “mengapa kau melakukan itu? “Apa yang sebenarnya terjadi?” “siapa itu Antonin dan bagaimana kau mengenal dan memutuskan untuk menikah dengannya?” hal-hal yang seharusnya jadi pertanyaan mendasar HW.
Ia hanya menanyakan hal-hal yang dulu ia sering tanyakan, seperti “apakah kau sudah makan?” hal-hal sepele yang jawabannya ia sudah ketauhi sebelum bertanya.

HW memutuskan untuk tidak bertanya, NR memutuskan untuk tidak bercerita. Keduanya pun kembali ke Korea.

Seoul

“Apa? Apa yang terjadi? Aku tak mungkin salah dalam kalkulasi desainku. Kalian bercanda?”

“Tidak perlu, aku akan kesana. Jangan lakukan apapun sampai aku ada disana, mengerti?!”

NR menutup telpon dalam bahasa Inggris tersebut. Lalu ia mengecek jadwal pesawat tercepat ke Prague. Ya, ia akan ke Prague kalau bisa detik itu juga. Nah, ia mendapatkannya, pesawat berangkat hari itu jam 5, sekarang jam 12 siang, ia punya waktu. Ia pun bergegas dan pergi meninggalkan rumah HW, rumah sekaligus kantor bagi HWN arc.

HW akan membunuhnya kalau tau ia pergi hari itu juga, tapi NR tak peduli, ia butuh pergi kesana. Ia butuh kabur dari sana, sesungguhnya. Ia menggunakan cara lama dengan hanya meninggalkan sepucuk surat, bukan, justru ia meninggalkan pesan di halaman depan kartu undangan berpita merah berwarna putih.

“Aku ke Prague, kau akan mengerti.”

HW melihat pesan tersebut ingin rasanya ia mencekik leher wanita tersebut. Wanita itu, NR pergi dan datang di hidupnya sesuka hatinya. Apalagi ini? Prague? Pesan sialan yang wanita itu tinggalkan di kartu undangan tersebut membuatnya geram.

Mendengar kota itu lagi ia jadi ingat kejadian 5 tahun lalu. Tepat persis seperti hari ini. Apalagi kali ini yang akan ia perbuat, pikirnya. Padahal 3 hari lagi hari pernikahannya.

Prague

Ya, escape plan. Ini lah yang ia tunggu-tunggu. Keluar dari Seoul, pikir NR. Berada di Seoul membuatnya gila. Pekerjaan di Prague sebenarnya bisa ia selesaikan di Seoul. Ia hanya butuh alasan, alasan untuk? Menghindar dari HW.

Ia tahu, dalam waktu dekat pernikahan ini akan terjadi. Namun, ia baru sadar, sedekat itu. Yep, tiga hari lagi dan ia sekarang membuat keributan. Ya, NR tau, HW akan menyusulnya kemari, pasti. Dan dugaanya terbukti karena pesawat berikutnya ke Prague telah mendarat bersama HW di dalamnya. Pesan singkat di HPnya berkata,

“Kau gila? Kau benar-benar gila. Aku tak percaya kau meninggalkanku di H-3, tunggu disana aku akan menyeretmu ke Seoul” HW

Pesan ini seperti dikirim seorang penagih hutang kepada yang ditagih. Memang ia salah apa? Pikir NR. Ia berhak melakukan hal apapun dalam hidupnya. . .
Jika dikatakan NR kabur dari HW, kenyataannya salah besar. HW tau persis NR berada dimana, orang kabur tak akan sejelas itu dan segampang itu ditemukan. Beda seperti 5 tahun lalu, kali ini HW terlihat marah besar. Ia murka. NR dapat melihat itu diwajahnya, NR pun memalingkan wajahnya ke arah lain, kemanapun asal matanya tak bertemu mata HW. Mata itu menyala bagai api. Mata yang biasanya selalu teduh dan menenangkan, sekarang penuh amarah dan kebencian, serta kesedihan dan kekecewaan yang berusaha ditutupi dengan api kemarahan.
Kata pertama yang keluar dari mulut HW adalah “kau wanita jahat”. NR hanya tersenyum sinis dan membalas dengan kata “bagaimana penerbanganmu, kau terlihat masih jet-..” HW “APA YANG KAU MAU?” “kau tau? 3 hari lagi adalah hari yang penting. Apa kau pikir aku main-main? Aku mengenalmu lebih dari 15 tahun dan kau tahu itu melelahkan! Kau terus pergi kesana dan kemari sesuka hatimu, kau pikir hanya kau disini yang memiliki kehidupan? Aku juga punya dan dalam tiga hari kedepan aku akan menjalani kehidupan baruku. Kau masih ingin merusaknya? Seperti 5 tahun lalu? Ketika kau mendadak pergi meninggalkanku, tiga bulan kemudian kau menghubungiku, oh bukan kau, siapa itu? Anders? Ya, kau masuk kembali kehidupku sampai sekarang lima tahun kemudian dan masih saja kau seperti ini. Seenaknya memutarbalikan hatiku. Apakah kau pernah peduli padaku barang sedetik saja? Pernah terlintas di otakmu?”

“Anggap saja tidak. Kembalilah ke Korea, calon istrimu nanti khawatir”- NR

“Apa? Ya! Hanya itu yang bisa kau katakan? Membuatku terbang jauh-” HW

“Aku tak memintamu! Kau datang sendiri, demi tuhan!~” NR

“Kau bodoh jika berpikir aku tidak akan datang dengan meninggalkan pesan sialan itu! Kau tau aku akan datang. Dan itu cara memintaku untuk datang kepadamu. Kau paling tau, demi tuhan, aku sudah mengenalmu seumur hidupku.” HW

“Jika kau menganggapnya seperti itu, berarti kau sama sekali tak mengenalku selama ini. Kau tak pernah mengerti diriku, kau hanya berpura-pura mengerti. Kembalilah ke Korea, aku tak mau merusak hari pernikahan orang lain, apalagi orang yang sudah mengenalku selama 15 tahun” NR

“…”

“Kau tau, mengenalmu lebih sulit daripada mencintaimu, selama ini aku merasa mencintai wanita yang berbeda walau dalam satu raga. ” HW

“Makanya, kau tak pernah benar-benar mencintaiku karena kau tidak benar-benar mengenalku” NR

“…”

“Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri?” HW

“Hhh.. Mendengar kau menanyakan ini, aku merasa seperti orang idiot. Kau bahkan tak pernah merasakannya. Kau merasa harus bertanya?” NR

“Ha ha ha, ya, aku akui, semua ini merupakan caraku membalasmu 5 tahun lalu, agar kau merasakan apa yang aku rasakan dulu. Lalu kenapa hatiku ikut merasakan sakit seperti waktu itu? Harusnya kau yang merasakan ini semua. Pernikahan ini semua aku rancang untukmu, maksudku untuk membalasmu 5 tahun lalu. Kenapa balas dendam begitu menyakitkan? Ini rasanya seperti aku merasakan sakitnya 5 tahun lalu sekali lagi, ketika kau tiba-tiba menghilang dan 3 bulan kemudian aku menemukanmu membeku di kamar mandi. Kau tak pernah tau, sakitnya hatiku saat itu. Namun, hari ini seharusnya kau yang sepertu itu. Kenapa aku masih merasakan sakit ini? Kenapa? Apa salahku? Kenapa bisa sesakit ini? Mencintaimu… Selama lima tahun ini, aku memikirkan bagaimana cara aku membalas rasa sakit ini? 5 tahun aku menahan ini semua, aku pikir 5 tahun ini aku memalsukan cintaku padamu. Ternyata? Aku tak tahu. Seharusnya aku tak pernah ke Prague lima tahun lalu. Mungkin tak akan sesakit ini jadinya. ” HW

“…”

To be continue?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s