Tugas Writing Anak Bahasa Inggris vs Anak ICAS

Jujur kacang ijo, gue sebagai anak bahasa, yaitu bahasa Inggris sebenernya mau ngeposting ini. Tapi gak apa-apa deh, namanya juga masih belajar, toh gak ada salahnya. Selama kita masih mahasiswa atau pelajar katanya kalau salah gak apa-apa, padahal mah kalo salah ya salah aja. Matkul semester ini lebih banyak teori dari dosennya ketimbang kerja kelompok yang menurut gue gak mutu, kenapa? coz I hate it, It’s like wasting our precious time. Mahasiswa sambil nguli mah gini, weekend itu berharga banget buat ngelurusin kaki barang sejam duajam. Tapi karena kadang tuntutan satu matkul, kaki belom sampe lurus eeeh udah harus pergi melanglang buana lagi ke ganasnya jalanan buat kerja “kelompok” which is not all of the members do it, just two or more, and the rest just sit round and pluck blackberries. Gue juga termasuk yang begitu, karena menurut gue kerja kelompok itu gak efektif, apalagi kalo soal buat makalah sama ppt, gak mungkin semuanya ngerjain, apalagi kalo laptop cuma 1 hihihi..

Gue bukan mau curcol sih, cuma pas aja momennya buat ngungkapin unek-unek. Setiap kerja kelompok gue inget si Hong Seol (Cheese In The Trap) haha, gue sih kadang merasa jadi dia kadang merasa jadi temen-temennya, tergantung matkul apa. Well, yang jelas, gue harap gue gak sering-sering dapet tugas kelompok, or so, seenggaknya dapet tugas yang emang bisa dan seharusnya dikerjakan dengan kelompok. Gak kayak semester lalu (curhat lagi), kerja kelompok tapi materinya gak sama sekali kita kuasain dan emang gak cocok aja buat dijadiin kerja kelompok. Walau kita ada buku, kalo materi itu gak di “sederhanakan” ulang oleh dosen, gue rasa siapapun akan bertanya-tanya dan alhasil itu matkul paling absurd karena menurut dosen gue yang lain, matkul itu juga harusnya gak buat presentasi!!!!! sebut aja matkulnya “English Phonology”. Mudah-mudahan nanti kalo, misalkan, misalnya, seandainya aja gue jadi guru atau dosen, gue bisa memilih mana yang dapat dipresentasikan dan mana yang tidak.

Nah, sekian curhatmezzo yang keliwat panjang ini, sekarang back to judul awal, tugas writing!!!!!! Yep, di semester 5 gue dapet matkul Writing 2. Beda sama Writing 1, Writing 2 ini gue lebih nangkep dan lebih banyak prakteknya. Gue suka sama dosennya, semoga gue lancar-lancar aja ngejalanin matkul ini, aamiin~

Namanya Writing, kita ya harus nulis, nulis pakai Bahasa Inggris, that’s the point. Gue optimis gue bisa menghadapi matkul ini, karena dosennya pun positif sekali mengajarkan kami. Satu hal gue suka dari kata-kata dosennya yaitu, setiap tugas kita gak akan ada yang dikumpulin atau dikoreksi oleh doi, bukan karena doi males, tapi katanya kalau dia koreksi atau dikumpulin, tulisan itu jadi tulisan doi, bukan tulisan dia, hmmm..jadi kita harus punya gaya sendiri dalam penulisan dan jangan berpatokan dengan orang lain, gitu sih makna yang gue tangkep. So, gue jadi sedikit pede. Kata doi semua orang itu bisa nulis, cuman bakatnya belom diasah, nulis itu gampang cuma kan harus ada aturannya. Apalagi kalau academic writing. Makanya kita belajar matkul Writing ya for that purpose. Kata-kata doi kalo ngajar encouraging me. Gue jadi punya niatan buat terus nulis, seenggaknya untuk membiasakan menulis, nulis apapun termasuk blogging kayak gini. Walau postingan isinya cuman curhatan tapi ya lebih baik daripada diam. Balik ke judul, tugas writing pertama gue akan gue tulis disini, gue malu sih, apa gak usah ya? It looks so pathetic. Tapiii…Whatever deh, I’ve tried anyway. So, here they are:

.

.

.

.

.

.

No! No way, let’s skip to the 2nd one. Gue gak pede sama yang pertama, karena temanya tentang diri gue sendiri. Gue gak mau jadi orang sombong kayak mas Andi. Jadi ini langsung aja tugas kedua gue, yaitu bikin paragraf naratif (masih paragraf loh!) haha

Salah satu syarat untuk bikin paragraf naratif ala dosen gue, this must be based on true story. Katanya gitu, khusus buat tugas ini, gue atau kami harus nulis an unforgettable moment or memory. Jadi gak boleh di create gitu, mungkin karena level kita masih cere kali ya jadi buat mempermudah aja. Gue jadi inget soal-soal ICAS Writing, padahal mereka, yang ikut ICAS Writing itu start from year 4 aka kelas 4 SD loh, dan mereka sudah harus bikin tulisan naratif bukan hanya PARAGRAF!! Gue merasa kalah level sama anak-anak itu, tapi kata si pepatah, kalau belajar itu gak kenal umur (gitu bukan ya bunyinya?) intinya, gue gak akan malu karena gue baru masuk ke field ini sekarang, so, perjalanan gue masih panjaaaaaang beda sama mereka yang baru lahir udah di cekokin sama bahasa Inggris dan sekali lagi, gak ada salahnya belajar kepada yang lebih muda sekalipun, karena kalian gak tau pengalaman apa yang mereka udah dapat dan kalian belum dan sebaliknya.

Kalau mau intip tulisan-tulisan anak itu gue ada linknya disini klik aja gue gak berani ngelampirin karena disitu bener-bener hasil scan tulisan tuh anak yang terpampang, cuma gue jadiin motivasi aja buat gue bisa jadi seperti mereka (kelak).

Kebanyakan ngomong dan akhirnya gue belom nulis satu katapun hahaha itulah gue, daripada gue curhat panjang lebar lagi mending langsung aja ya ini gue ketik nih, yang ini beneran tulisan gue, based on true story yang sedikit dikasih garnis, dikarenakan tidak ditemukannya kalimat yang pas untuk menyampaikan maksud gue kedalam tulisan, let’s check it out:

An Awkward Moment

    There was a time I felt really awkward at the moment, but I just realized it after a while. About two years ago, my best friend and I went to a concert for the first time in our lifetime. We were so happy because We got the tickets for free. They are from her classmate in the university. We agreed to meet him at the concert hall two hours before it started, in order to get the tickets from himself. I had no idea how does he look like. For all I know, He is older than my friend, the way older. However, on our way there, We separated from each other because we took the different “ojek” from bus terminal to the concert hall which is quite far if we choose to walk. It was my friend who got there first, then me. I saw her with an older guy I thought he was her friend. I greeted him friendly and even gave him a kiss on his hand. My friend seems confused but She didn’t say a word. Then, We left him behind and continued walking to the hall without saying a word to him as well, as we walked by, She asked me “Who is he?” and I answered “He is your friend, isn’t he?. She replied “No, He isn’t. That’s my friend!”Pointed out someone who walked down the hall and waved to us. “Oh,well.” That was the only word I said. After that, We never ever talked about it anymore as if nothing happened. We learned the truth six months later that the guy is “calo” who sells concert ticket illegally, then we laughed at my foolishness.

To be continued..

Yep, akhirnya kelar tugas kedua writing gue kali ini. Udahan ah nulisnya, capek.

anime-girl-writing

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s