Winter and Autumn Sonata in Paris

Tadinya gue pengen ngelanjutin tulisan gue di postingan yang sebelumnya, cuma, gue terlalu mellow untuk nulis tema tersebut sekarang. Gue abis marathon drama lama Endless Love: “Winter Sonata”, baru episode 5, cuma episode ke 2 aja udah bikin gue banjir air mata. Bener ternyata, kayakynya novel kesukaan gue karya Ilana Tan yang judulnya Autumn In Paris emang terinspirasi sama drama itu. Tragic Story. My favorite theme of drama so far. Gue suka banget sama cerita-cerita ironic dan tragic yang bisa bikin lo nangis senangis nangisnya. Well, bukan karena gue mellow, ya memang, cuma karena cerita seperti itu gue anggap bagus. Dia bisa mengambil hati penontonnya, untuk bisa merasakan hal yang sama sama apa yang dirasakan karakter dalam drama atau novel tersebut. Itulah kisah cinta yang indah, bukan cuma yang akhirnya happy ending, tapi yang meninggalkan kesan yang mendalam. Yang bikin orang gak gampang lupa dengan ceritanya sehabis mereka nonton, mereka akan tetap mengenangnya bahkan dapat memutar lagi kenangan itu jika memang diperlukan.

Kisah cinta itu gak harus semuanya seperti Disney, kita juga punya yang namanya Ghibli, kenapa gue kaitkan dua produsen film animasi tersebut? Pertama, karena semua film-film Disney berakhir dengan happy ending, sedangkan Ghibli tidak. Ghibli lebih kepada logika dan juga realita. Ghibi lebih mengajarkan kita bahwa hidup itu memiliki banyak pilihan dan pilihan-pilihan tersebut akan mengarah kepada ending yang berbeda-beda pula, sesuai dengan pilihan yang dipilih sebelumnya. Ghibli seperti itu tidak sesimple Ghibli.
Gitu sih yang gue tangkep dari keduanya. Nah, begitu pula dalam memilh drama, film, atau novel. Gue lebih suka dengan cerita yang ending yang makes sense atau tragic sekalian dari pada happy ending tapi maksa. Gue lebih suka sebuah cerita yang seperti itu karena cerita tersebut akan meninggalkan kesan, bukan cuma sekedar menguap begitu saja seiring berjalannya waktu. Happy ending gak masalah jika memang cerita mengarah kepada ending yang demikian, tapi tidak ada cerita yang benar-benar final itu happy ending. Begini, lebih baik open ending jika dibutuhkan karena, open ending membiarkan imajinasi pembaca atau penonton memiliki asumsi dan teorinya sendiri-sendiri.

Sebuah akhir yang tragic dari novel Autumn in Paris, sesungguhnya merupakan akhir yang baik untuk keduanya. Hubungan mereka terpisahkan oleh ikatan darah, yang lebih kental dari apapun. Takdir telah mempertemukan dan memisahkan mereka dengan paksa. Namun, jika mereka berdua tetap melihat satu sama lain, dunia mereka tidak akan mengalami progress apa-apa. Depresi, luka yang terpendam akan menghancurkan dunia keduanya, walau kematian juga menghancurkan dunia Tara pastinya, namun hal yang pasti, Tatsuya dan Tara tidak akan membunuh satu sama lain jika terus menerus menemui satu sama lain. Begitu pula Joonsang dan Yujin, jika Joonsang terus di sisi Yujin, maka dunia mereka berdua akan hancur, mereka berdua akan berada dalam neraka dunia seumur hidupnya. Walau Yujin tetap berada dalam neraka dunia sepeninggalan Joonsang, karena merindukan adalah sebuah penyakit yang lebih sakit dari penyakit fisik biasa. Longing for someone that not even exist anymore and won’t come back is like longing for Spring in the Winter season.

img-thing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s