Wedding Fair ~ Secret Story

Grey Aria Lestari, Nibiru Kalangitan, Rakadya Wilona, tiga cinta, satu pernikahan dan sebuah rahasia.

Tanpa disangka dan di duga, Biru dan Grey akhirnya memenangkan kontes foto pernikahan tersebut. Hadiahnya? Ternyata tak tanggung-tanggung! Mereka dapat paket honeymoon ke Karimun Jawa!

Paket honeymoon tersebut berlaku tahun ini sepanjang tahun dan dengan syarat selama honeymoon mereka akan di dokumentasikan yang nanti ya domentasi tersebut akan dipergunakan oleh Kirana Wedding Organizer, WO terbesar yang mengkoordinir WO-WO peserta pameran tersebut sebagai bentuk promosi dan advertisement. Sudah terlambat bagi Grey dan Biru untuk mengaku kalau mereka sebenarnya bukan pasangan dan boro-boro memikirkan pernikahan dalam waktu dekat!!! Kenal saja baru satu jam lalu. Bukan kenal secara resmi malah, sepanjang persiapan pemotretan foto pernikahan mereka tadi mereka hanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Biru, sibuk dengan kenangannya dan Grey sibuk dengan jantungnya.

Sejenak, setelah satu jam berada di tempat yang sama, Biru dan Grey, seakan memasuki dunia paralel, dimana, di tempat itu, mereka adalah pasangan yang ada di foto, bak artis, Grey dan Biru memainkan perannya. Pada awalnya Grey ragu-ragu, begitu juga Biru. Sampai akhirnya Biru berkata dengan sok di yakinkan, well, why not? Are you coming? Or did you come with someone? Grey pun menjawab. Sure, no, sadly I came by myself. Biru pun tersenyum, senyum yang tidak pernah Grey liat selama ini. Pikirnya, ah, begitu rupanya cara lelaki tersenyum. Dia hanya melihat senyum-senyum semu selama ini, bahkan senyum iba. Tidak ada yang tersenyum seperti laki-laki di depannya itu. Yang kini, sudah berada lima langkah di depannya. Ia terus berjalan mengikuti mbak yang tadi mengajak mereka ke dalam booth. Langkahnya tanpa ragu, seakan ia sudah sering masuk ke dalam booth-booth di pameran itu. Familiar dengan tempat tersebut. Sedangkan Grey hanya mematung di pintu masuk sambil memerhatikan langkah kaki pria itu yang namanya pun ia tidak tahu.

Lima tahun setelahnya~

Wanita itu tak pernah datang kembali, walau aku telah menunggu di bandara sampai pesawar kami berangkat meninggalkan kami. Setelah memilih tanggal keberangkatan ‘honeymoon’ gratisan yang kami dapatkan 3 bulan lalu, kami sepakat untuk bertemu kembali hari h keberangkatan ke karimun jawa seperti yang sudah di janjikan. Namun, 3 jam berlalu dan ia belum juga datang. Aku merasa seperti ditolak 2 kali, oleh Lona dan juga Grey, nama gadis itu. Aku tahu dari tiket pesawat yang aku pegang. Grey setuju akan tanggal liburan gratisan kami itu setelah kami selesai mengurus surat-surat untuk keperluan pembookingan pesawat dan resort, tiba-tiba saja wanita itu menghilang bagai angin. Secepat kilat. Dan sekarang ia juga tidak menunjukkan batang hidungnya. Mungkin dia pikir hal gila jika ia mau menghabiskan liburan dengan laki-laki yang tidak dikenalnya. Dengan bodohnya laki-laki itupun datang ke bandara. Apa yang dia harapkan? Wanita itu datang? Ia mungkin sudah gila berharap demikian. Biru, you are a miserable man.

Jantung ini berdebar terus, sejak saat itu, 3 bulan lalu. Rasanya jantungnya makin parah, obat sudah tak mempan lagi. Kadang bisa sampai seharian ia diatas kasur, hampir tak bergerak. Ia takut jika bergerak, jantugnya akan pecah berantakan. Ia takut. Baru kali ini, ia berharap jantungnya akan baik-baik saja. Baru kali ini ia memiliki harapan. Ada apa dengannya? Apa dia pikir harapan akan mengubah segalanya?

Sejak kapan ia berharap? Untuk apa ia berharap? Apakah ia percaya harapannya akan terkabul? Mendengar kata kita akan bertemu 3 bulan lagi di bandara, mendadak jantungnya serasa mau copot, ia pun segera berlari, tidak seperti lari pada umumnya namun cukup cepat untuk keluar dari booth tersebut dari tempat itu.

Dari harapan? Tiga bulan? Mengharapkan besok ia masih ada saja ia tidak berani! Ini tiga bulan. Adalah waktu yang sangat, sangat lama baginya. Bagi Grey, detik adalah satuan waktu yang lebih besar artinya dari 1 jam. Tiga bulan, ia tak berani membayangkan.
Grey, apa yang ada dipikiranmu. Apa yang sebenarnya kau harapkan? Apa yang ingin kau raih? Kau sudah lama lupa akn semua hal itu.
Tadi, satu jam itu kau bukan dirimu, dia dirimu di dunia paralel. Ia gadis normal sedangkan kau sakit Grey. Ya, kau sakit dan itu bukanlah hal yang seharusnya kau lupakan.

Oke, pesawat kami mungkin sudah mendarat, buat apa aku masih duduk disini. Yang harus kupikirkan sekarang ialah harus menjelaskan hal ini kepada tim yang akan meliput kami nanti, rasanya mereka pasti kecewa, lebih kecewa dibandingkanku mestinya. Namun, kenapa aku merasa akulah yang dikecewakan?
Aku tahu ini kedengarannya ironis sekali, aku kecewa. Entah dengan siapa, dengan Lona, wanita itu, atau mungkin lebih kepada kecewa akan diriku sendiri. Biru, kau menyedihkan sekali, bahkan wanita yang baru kau kenal jelas-jelas menolakmu, bukan secara langsung melainkan menolak untuk liburan bersamamu. Aku kira dia akan setuju saja, karena tampaknya 3 bulan lalu dia tidak mengatakan apa-apa, oh c’mon, I’m not that stupid tho, dia pasti tak akan mau, I should have known that. Dia hanya tak enak menolak apalagi di depan para WO itu. Ia hanya, well, being considered back then. She played her part well. I’m the one who’s clueless. Tapi, apa dia lupa? Ah rasanya mustahil ia lupa. Ia memberikan alamat emailnya pula waktu itu, semua itinerary kan dikirim oleh WO via email. Oh stupid boy, email kan bisa aja ngarang! Geez.
I should go now, there is nothing I can do here. I should probably go to the WO and explain everything. That there is nothing between us, we just passing by and they came, we took a photo and won. That’s how it was.
Biru pun melangkah pergi dari bandara, namun dari kejauhan, wajah yang tak asing itupun terlihat. Wajah pucat yang kali ini tampat lebih tirus dari sebelumnya dengan dress berwarna putih pucat bermotif bunga krisan dibawahnya namun tak cukup memberi warna pada tampilannya. Ia tampak tenang dengan langkah tersusun matang dan perlahan, menghampiriku yang kini ada di depannya, dan berkata “Maaf, membuatmu menunggu. Aku rasa aku hutang 1 tiket pesawat padamu” sambil menyodorkan 2 buah tiket pesawat untuk keberangkatan berikutnya. Aku hanya terdiam, kehabisan kata-kata. Pikirku, rupanya ia datang, kalau aku pergi 1 jam lalu mungkin kami tak akan pernah bertemu.

Meyakinkan kedua orang tuaku lebih susah ketimbang membujuk dua negara yang sedang berperang untuk berdamai. Mereka berdua mungkin memiliki daughter complex, sejak kecil mereka selalu saja mengatur segalanya di hidupku, terima kasih kepada penyakitku, mereka sangat protektif sekali. Mungkin juga karena aku adalah anak semata wayang mereka. Mereka memutuskan akan merawatku dan mencurahkan seluruh cintanya hanya kepadaku. Mamah memang belum terlalu tua untuk punya anak lagi, namun ia memutuskan untuk fokus hanya padaku. Berulang kali aku membujuknya, dia tetap teguh pendirian. Katanya, aku tak bisa fokus lebih dari 2 hal dalam hidupku. Ini bukan karenamu, ini karena diriku. Aku hanya ingin menjagamu dengan baik, tolong ijinkan aku. Untukku, kau segalanya. Bahkan jika segalanya harus kutinggalkan, aku tak akan pernah meninggalkanmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s