Healing Time

Ketemu teman memang salah satu cara merestore hati dan pikiran kita. Walaupun biasanya gue juga suka pergi ke suatu tempat sendiri sih untuk melakukan hal itu, tapi terkadang you just need somebody to talk to when you feel low. I decided to meet my best friend today and watched a movie. It’s Mr. Hurt, Thai movie. Our favorite actor’s there, He’s Sunny or my friend would call him “Mamas Sunny”. Sunny Suwanmethanont, what a weird name if you don’t know that he’s from Thailand, Thai people have super hard long to pronounce names.

Continue reading

Advertisements

Never!

It such a pity when movie version of your favorite book is ruined everything that you have in your mind regarding character, plot, places or even dialoge of the characters of the book. 

The Mood of That Day Review

Film ini selalu gue ulang-ulang sebagian atau seluruhnya setiap malam kalau gue mau tidur. Gue udah nonton film ini berkali-kali cuma rasanya pengen nonton lagi dan nonton lagi. Ceritanya ringan banget, romantic comedy sih. Biasanya cerita film-film seperti ini standar, ujung-ujungnya ya happy ending, tapi menurut gue untuk yang satu ini gak ngebosenin. Entahlah karena pemainnya Moon Chae Won eonni dan Yoo Yeon Seok oppa atau gimana. Gue pertama kali ketemu eonni di Briliant Legacy lalu Painter of The Wind, My Fair Lady, Princess’ Man (akting dia disini gue suka banget sama Park Shi Hoo) dan Innocent Man(disini juga gue suka banget, dia itu total banget meranin EunGi sama Song Joong Ki) . Kalau Yoo Yeon Seok gue ketemu pertama kali di Reply 1994, cuma dulu gue bukan team chilbong (maaf ya oppa) gue team oppa!!!! Gue baru suka sama dia pas di film ini memang, telat banget ya guee? yaah gimana ya 😦

Yang jelas di Mood of The Day chemistry diantara mereka dapet banget. Temanya yaitu train, conversation, stranger, one-n*ght-st*nd ah! itu adalah tema-tema kesukaan gue hee~ kayak Before trilogi yang pertama, Before Sunrise dan novel yang baru aja selesai gue baca yaitu Just One Day (2 1/2 logy sepertinya).

Penasaran sama filmnya? nonton aja deh mendingan 🙂

Note: ternyata gue baru nyadar kalau sepanjang film mereka pakai background songnya Ed Sheeran – Photograph cuma emang di aransement ulang dan itu baru gue sadari tadi malem pas nonton untuk kesekian kalinya. 

The Mood of That Day Review

Film ini selalu gue ulang-ulang sebagian atau seluruhnya setiap malam kalau gue mau tidur. Gue udah nonton film ini berkali-kali cuma rasanya pengen nonton lagi dan nonton lagi. Ceritanya ringan banget, romantic comedy sih. Biasanya cerita film-film seperti ini standar, ujung-ujungnya ya happy ending, tapi menurut gue untuk yang satu ini gak ngebosenin. Entahlah karena pemainnya Moon Chae Won eonni dan Yoo Yeon Seok oppa atau gimana. Gue pertama kali ketemu eonni di Briliant Legacy lalu Painter of The Wind, My Fair Lady, Princess’ Man (akting dia disini gue suka banget sama Park Shi Hoo) dan Innocent Man(disini juga gue suka banget, dia itu total banget meranin EunGi sama Song Joong Ki) . Kalau Yoo Yeon Seok gue ketemu pertama kali di Reply 1994, cuma dulu gue bukan team chilbong (maaf ya oppa) gue team oppa!!!! Gue baru suka sama dia pas di film ini memang, telat banget ya guee? yaah gimana ya 😦

Yang jelas di Mood of The Day chemistry diantara mereka dapet banget. Temanya yaitu train, conversation, stranger, one-n*ght-st*nd ah! itu adalah tema-tema kesukaan gue hee~ kayak Before trilogi yang pertama, Before Sunrise dan novel yang baru aja selesai gue baca yaitu Just One Day (2 1/2 logy sepertinya).

Penasaran sama filmnya? nonton aja deh mendingan 🙂

Note: ternyata gue baru nyadar kalau sepanjang film mereka pakai background songnya Ed Sheeran – Photograph cuma emang di aransement ulang dan itu baru gue sadari tadi malem pas nonton untuk kesekian kalinya. 

Pardon My Obsession

Gue mau cerita tentang betapa dunia fiksi amat mempengaruhi kehidupan nyata gue. Salah satunya fiksi menginspirasi gue untuk menjadi sesuatu, membeli sesuatu, hobby akan sesuatu yang sifatnya temporary atau sementara. Seakan-akan gue pengen menghidupkan fiksi tersebut dan meleburkannya ke dunia nyata. Adakalanya fiksi seakan menarik gue menjauhi dunia nyata itu tersebut, seperti yang beberapa tahun lalu sahabat gue pernah bilang ke gue kalau hidup gue itu ya fiksi. Gue hidup dengan kenyataan bahwa gue mendedikasikan sebagian besar hidup gue bukan di dunia nyata gue melainkan dunia fiksi atau imaginary yang gue ciptakan sendiri.

Semua yang dikatakan temen gue itu ada benernya namun gak semuanya benar. Gue juga selalu berusaha menarik diri gue kembali ke dunia nyata sebelum gue tenggelam lebih jauh ke dunia fiksi dan gak bisa balik lagi. Fiksi menjadikan gue pribadi yang random dan mudah sekali terpengaruh alur cerita yang sedang gue ikuti saat itu. Misalnya, tiba-tiba ketika gue nonton Fullhouse dulu, gue pengen kayak Han Ji Eun yaitu jadi penulis novel atau naskah!!!! Gue pengen punya rumah kayak rumah-rumah yang ada di fiksi, Alice: Boy in Wonderland-nya Jonghyun, lake house ala-ala Ilmare. Gue jadi suka bunga gara-gara gue nonton Goblin dan pengen nanem buckwheat di halaman rumah gue sampe akhirnya gue nyari bibit tanamannya dan cara nanemnya, dan ternyata hasilnya gue gak dapet bibitnya karena udah abis. Gue masih nyari lagi! takutnya juga ga bisa gue tanem gitu aja karena di Indonesia kayaknya hampir ga ada ladang buckwheat deh.

Kalau dalam hal apparel atau fashion gue rada give up! karena udah harganya selangit, kadang brandnya ga dijual bebas di pasaran alias cuma ada di negaranya aja. Kayak sepatu Veja yang dipake Gong Hyo Jin di Jealousy Incarnate.

Well, that’s why I sometimes hate myself because I tend to do the stupid things instead, like buying Jansport’s bag cost me almost a million.

Hahaha… Do I look like Ji Eun Tak now?